tiket

Hidup adalah perjuangan. begitu mereka bilang. aku mengalami sendiri, kehidupan itu. meski aku belum pernah merasakan perjuangan sedahsyat mereka.

ada di saat aku diiming-imingi suatu kesenangan, layaknya bonus. misalnya saja pulang, atau mendapat bonus liburan, atau sekedar jalan-jalan di Sawojajar. entah disadari atau tidak, selalu saja ada yang harus kubayar sebelum aku nyampek ke sana. kalau kata Tung Desem Waringin sih pain and pleasure.

tentu saja, tidak boleh hidup minta enaknya saja. hidup mesti seimbang. tidak ada yang gratis di bumi manusia ini. kalau diibaratkan ya bagai tiket saja. semua ada tiketnya. bisa mahal bisa murah, sesuai dengan apa yang kita dapat. seorang kecil pernah mengatakan, apa yang kita dapat sesuai yang kita usahakan. bolehlah dikata, usahanya segini, dapatnya juga segini.

jadi ya yang legowo saja menghadapi apa yang sedang kita hadapi meski ini sulit. kata Merry Riana, "pay now, play later. mimpi itu gratis, sukses itu bayar. bayar harga kesuksesanmu sekarang!" iya lah. daripada pascabayar yang ujung-ujungnya ditagih di akhir, pas lagi di puncak kesuksesan, terus tiba-tiba Allah minta bayarannya dan kita tidak (pernah) siap membayarnya. aku punya keyakinan ini adalah bayarannya. semakin aku "menderita", semakin hebat yang akan kudapat nanti. aamiin. bahkan terkadang aku iri saat melihat orang lain bersusah-susah lebih dari aku. bukankah itu berarti mereka lebih sukses dari aku?

ingat mestakung, semesta mendukung. tempatkan diri di posisi sekritis mungkin. yakinlah, diri ini masih bisa survive kok. Allah tahu batas kemampuan kita. selama raga masih sanggup, why not? investasi sebesar-besarnya sebagai tiket kehidupan masa depan yang menjamin kebahagian abadi, bukan kesenangan yang fana.

as long as I can, I will. ~dy
Malang, 1609132014 

Comments

Popular posts from this blog

rindu #2

could it be?

kejar