Desember #1
Kepada yang terhormat Bulan Desember
demi air jatuh bergemericik lembut
demi awan yang senantiasa membentuk wajah-wajah orang yang kurindukan
aku menghadap padamu dengan seluruh persembahan
mematung dengan buaian-buaian semu
Kepada yang terhormat Bulan Desember
sebelas bulan yang lalu aku di tempat ini,
pun kini hingga kau hadir kembali.
penantian belum lagi berakhir.
di bangku yang sama
Desember yang dingin sore itu.
peraduan rintik hujan nan lembut
rintih hati tak lagi berlaku
dunia kian tega,
makin menua dan tak mau tahu
tapi kau masih tetap Desember yang sama
menghiburku seolah tak ada lagi bulan depan
membujukku untuk selalu melepas semua
agar hilang dan usai perih itu
Pelepasan segala,
kepercayaan tertinggi,
dan kedamaian.
aku belajar itu semua darimu.
demi sebelas bulan penantian
dan keanggunan sebelas purnama.
Kepada yang terhormat Bulan Desember,
aku menyukaimu.
demi air jatuh bergemericik lembut
demi awan yang senantiasa membentuk wajah-wajah orang yang kurindukan
aku menghadap padamu dengan seluruh persembahan
mematung dengan buaian-buaian semu
Kepada yang terhormat Bulan Desember
sebelas bulan yang lalu aku di tempat ini,
pun kini hingga kau hadir kembali.
penantian belum lagi berakhir.
di bangku yang sama
Desember yang dingin sore itu.
peraduan rintik hujan nan lembut
rintih hati tak lagi berlaku
dunia kian tega,
makin menua dan tak mau tahu
tapi kau masih tetap Desember yang sama
menghiburku seolah tak ada lagi bulan depan
membujukku untuk selalu melepas semua
agar hilang dan usai perih itu
Pelepasan segala,
kepercayaan tertinggi,
dan kedamaian.
aku belajar itu semua darimu.
demi sebelas bulan penantian
dan keanggunan sebelas purnama.
Kepada yang terhormat Bulan Desember,
aku menyukaimu.
~dy

Comments
Post a Comment