untuk yang terakhir

Selamat malam,

kali ini kuhadirkan kesunyian dan kesendirian yang biasanya suka kaukutuk.

hey, kau tahu rasanya ketika kau harus meninggalkan yang kau telah jatuh hati padanya? mungkin kau harus merasakannya sesekali. ada yang harus disyukuri dari sebuah perpisahan, meski lebih jelas terlihat kesedihan dan penyesalan. tapi betapa kau menghargai pertemuan, setinggi itu pula penghormatan kepada perpisahan.

pernah mendengar nama Joko Pinurbo? dia adalah seorang maestro di bidang puisi. dan dia dengan apik menuliskan logika tentang perjumpaan dan perpisahan di puisi cantiknya : Perjalanan Pulang
Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ada.
Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.
sayang, perjalanan kita tak pernah berhenti, kita bertemu dan meninggalkan banyak orang. dan aku pun hanya satu dari berjuta orang yang kau temui lalu kau tinggalkan. kau juga kan? aku tak mengerti bahwa ada di antara pertemuan dan perpisahan itu yang menyisakan kesedihan. padahal tak seharusnya begitu bukan? dan pada akhirnya waktulah sang penyembuh yang berlalu seraya membawa lalu sakit kita.

hmm, mungkin juga waktu itu aku hanya merasa bertemu denganmu. bahwa jarak yang sebenarnya pun hanya ada di angan kita. seberapa kita merasa bertemu dan berpisah, itulah jarak kita. lalu, apa itu juga mungkin jarak hati kita?

jadi, apalah arti sebuah perpisahan? mungkin logika mulai berkoar. namun sayang, kau tidak akan semudah itu melogikakan perasaanmu. Tuhanmu sudah menciptakan mereka berbeda. meski sakit (atau mungkin kau tidak merasakannya lagi karena telah terlelap), jangan pernah berhenti berharap. sebab kita masih boleh dipertemukan oleh perasaan kita sendiri. lalu, samakah rasaku dengan rasamu?
Rumah itu mungkin akan selalu menanyakan kepulangan,
pintu-pintu minta kiriman kisah petualangan.
aku yakin kau belum lupa rasanya pulang kan? percayalah pulang adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dihindari. begitupun olehku, olehmu. sejauh apa kita melangkah, pasti kita akan pulang. lalu, apakah pulangku sama dengan pulangmu?

oh, takdir-Nya adalah yang terbaik, kuharap kau percaya. sekeras apa aku menolak, Tuhan akan selalu membelokkan jalanku ke takdir-Nya, kau percaya? lalu, bagaimana kalau takdir kita tidak sama?
Rindu. Aku ini memang selalu rindu untuk pulang
tapi saban kali juga tak betah.
Petualang sekaligus pencinta rumah.
kita seringkali menciptakan rumah-rumah di ranah petualangan kita. berharap bisa selalu pulang. tapi percuma, sebab ternyata sesering itu pula kita semakin merasa rindu. sebab pulang itu adalah perasaan, bukan pengertian yang diartikan secara logika. bah, apalah itu logika. mana pula logika akan berlaku di sini. kau tahu kan? logika sering tidak berlaku untuk kita.

jadi, kuharap kau (begitupun aku) tidak menangis. karena kita tidak pernah benar-benar berpisah. meski logikamu berkata ribuan mil adalah jarak yang tidak dekat. baiklah mari silakan tertawa. karena kita tahu, perasaan kita berkata perpisahan tidak pernah ada, untuk mereka yang hendak setia menunggu hingga akhir.

Madiun 22:59
29 Ramadhan
~dy

Comments

Popular posts from this blog

rindu #2

could it be?

kejar