tak kan habis kumerindu
selamat malam.
lagi, kuhembuskan rindu yang kian hari tak pernah surut. di tengah hal-hal yang harus dibereskan di antara malam-malam yang melelahkan. ada rindu yang ingin diungkapkan. seperti halnya perempuan, dan manusia yang berperasaan, aku bukan orang yang lihai menahan perasaan.
Yogyakarta, sudah enam bulan sepertinya, setelah tengah malam yang itu. pada waktu orang-orang sedang terlelap dalam mimpi indahnya akan masa depan. dalam sunyi, merekam detik demi detik terakhir. menyusun rapi ke dalam ingatan. menyimpan segala hal yang bisa membawaku ke memori tentangmu, tentang sudut-sudut dan manusia-manusianya.
aku tidak bisa mempuitisasi kata-kata tentangmu seperti pujangga-pujangga di seluruh negeri. aku hanya bisa menyimpanmu di sini saja, di dalam ingatan dan kesan.
meninggalkanmu, satu keputusan yang berat. mengguncang seluruh akal dan jiwa. bodoh, gila, atau apalah, mungkin diri memaki dan mencaci diri. entahlah aku menjadi orang lain atau sedang kerasukan. hmmp, begitu tersadar aku sudah di kota yang sama sekali asing. dan jarak ratusan kilometer darimu dan orang-orang yang luar biasa.
mengunjungimu lagi bukan solusi. sebab selalu ada yang hilang. sebab memori dan kenangan tak akan lagi pernah sama. meski aku memaksa, bagaimanapun semua sudah berbeda. iya kan?
lagi, keluh dan sesal datang lagi. ego selalu memintaku untuk kembali. selalu. tapi akal selalu meraja. memintaku untuk bertahan, entah akal yang mana.
enam bulan bukan waktu yang singkat. waktu seringkali menjadi penyembuh luka terbaik. seperti pelangi yang setia menunggu hujan reda. hanya soal waktu (dan kesempatan). tak akan kulepas waktu untuk berjumpa denganmu.
tak akan pernah habis aku merindu.
terima kasih untuk selalu menanti.
26/01
~dy
Comments
Post a Comment