kota dari balik kaca

Malam ini aku menulis tentang sebuah kota named Jakarta (untuk kedua kalinya). aku tidak pernah menyukai kota ini sebelumnya, dan sebelum sebelumnya, dan sampai hari ini, bahkan detik ini. alasannya? everyone knows. jakarta itu panas (dan aku tidak menyukai panas). banyak orang penuh kepalsuan di dalamnya. orang-orang borju semakin mendewa dan orang-orang marginal semakin tersisih. bukan literally tersisih sebenarnya, sebab mereka ada di setiap sisi ibu kota. menyelip di antara kepongahan orang kota dan di kolong-kolong jembatan, berteduh di sisi remang lampu jalan. Jakarta, kota dimana aku tidak mau percaya sebagian besar darinya.

Tapi tiba-tiba aku ingin menulisnya di sini, menuliskan hal lain dari penilaianku terhadap Jakarta selama ini. semua kota yang kukunjungi sudah pernah (setidaknya) memberikanku something not good to remember. dan aku percaya bisa mengambil pelajaran dari tiap kejadian itu. termasuk di Jakarta ini. firstly, what I concern at adalah soal zona nyaman. comfort zone bagiku bukan melulu soal tempat, tapi at most tentang with whom. so this time I announce that Jakarta menjadi bagian dari zona nyamanku, setidaknya untuk saat ini. faktanya, aku bisa dengan tenang memandangi segala yang bisa dipandang di Jakarta ini dari balik kaca. bukan ingin sombong. apa sih yang bisa disombongkan dari keadaanku yang seakan dipaksa ego untuk sering-sering ke Jakarta. meski seringkali juga berbuntut perasaan tidak menyenangkan. tidak menyenangkan berada di antara dua orang yang yaa you know have just been married. bikin kepingin? haha. noo

Beberapa waktu lalu alasanku ke Jakarta adalah untuk memperbaiki sesuatu yang sudah agak berkarat, berharap masih bisa sedikit memolesnya menjadi bagus lagi. berhasil? hm, I can't say it works. maybe not yet, maybe failed, maybe difficult. yeah maybe. maybe juga aku sudah cukup lelah (meski baru beberapa kali mencoba). aku cukup bodoh berpikir bisa berhasil hanya sekali dua kali. ternyata sulit. sulit bertaruh soal hati. apalagi sudah bertahun-tahun, mungkin puluhan.

Tapi this time aku datang lagi ke kota ini. masih suka memandangi pemandangan Jakarta dari balik kaca. masih di antara dua orang yang membuatku merasa di balik cermin dua arah, exist but invisible. tapi aku datang untuk alasan lain. bukan semata karena ini adalah long weekend. aku bertaruh bahwa jika tidak ada orang itu aku akan lebih memilih tetap bertahan di Jatinangor. ya orang itu, yang tiap weekend sejak bekerja di Tangerang selalu bertanya kapan aku ke Jakarta. aku pikir I have been missed him so much. I hope you know arti merindu. it happens normally when you don't meet for such a long time. I said normally, sebab ada orang tertentu yang tidak bisa dikatakan normal sebenarnya. yaa you know, orang yang jatuh cinta. well abaikan, lol

I wish aku tidak perlu sering-sering ke Jakarta lagi sebenarnya. cukup netral perasaanku soal Jakarta. tidak perlu membencinya that much. Jakarta is the city when I got so much hope. when I was enamored, when I fell and lost. a city that gave me lot of lesson already. Allah create bad and good one so I can learn, right?

Jakarta, 7/2

Comments

  1. wah, aku baru aja juga buat tulisan tentang jakarta dan baru baca ternyata juga ada jakarta di blog kamu diy:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, memang kita sehati nulisnya. wait, aku kudu baca nih.
      tapi itu udah sekitar sebulan lalu kayanya.

      Delete
  2. wkwk iyaa nihh, sehati ^^ jadi terharuu #kyaaa

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

rindu #2

could it be?

kejar