hujan, kamu, dan kesendirianku
Hujan, aku tak mengerti bagaimana air yang jatuh saja bisa menyihir udara sekitarnya, menjadi lebih syahdu, atmosfer penuh cinta, dan dalam.Kau dan hujan. Seringkali aku tak mengerti mengapa sering mengaitkanmu dengan hujan. Apa miripmu dengannya? Hm, mungkin sama-sama bisa menciptakan suasana yang menyenangkan. Seperti kali ini, tiba-tiba saja kurasakan dopaminku meningkat hanya dengan bersamamu menghabiskan waktu di sisa senja.
Aku tak mengerti, air jatuh saja bisa membuatku jatuh hati, merindukannya.Kamu tahu hal yang paling menyebalkan dari jatuh hati adalah rindu. Orang bilang rindu itu indah, namun sering pula itu hanya gejolak perasaan yang aneh ketika kita menginginkan sesuatu untuk datang. Sesuatu, yang identik dengan bagian dari masa lalu. Kau, yang pada masa kini merupakan bagian dari masa laluku. Wajar mungkin untuk merasa rindu, apalagi rindu kepadamu bukanlah hal yang sulit dilakukan. Hujan seperti ini, yang semakin membuatku tak tahan menyembunyikan rasa rindu ini.
Mengapa aku begitu menikmati, berlama-lama memandang air yang mengalir lewat permukaan kaca, bersenang-senang dengan kesendirianku.Sendiri. Akrab sudah aku dengan keadaan ini, tidak terganggu dan lebih suka menikmatinya. Mengerikan memang, orang yang suka sendiri. Tapi bolehlah kupikir menyelakan waktuku untuk hanya denganku. Menyudut dari hiruk pikuk, membiarkan sedikit demi sedikit diri ini larut dengan kesendirian.
Hujan, jelaskan padaku, bagaimana kau bisa menghentikan waktu dan membawa ribuanBegitulah, seakan hanya ada aku dan hujan. Dan itu cukup menggantikanmu di sini. Aku rela melupakanmu, sebab tetes hujan sudah menghapus jejakku (dan jejakmu). Merelakan semuanya dan yang tersisa tinggal memori. Menikmati senja denganmu, membunuh waktu, ah nampaknya lebih mudah dilakukan bersama hujan ini.
memori ke permukaan.
Selamat sore.
Semoga hujan di sana juga cukup menggantikan aku dan memori kita.
Jatinangor, 29 Mei 2016
14:28
~dy

Comments
Post a Comment