childhood

I don't like children indeed, however I learn much from children. I think sometimes we need to use their paradigms. (maybe this is why I am little bit childish (~sigh))
di sela-sela hari yang sibuk, aku selalu menemukan celah, ketika pikiranku bebas berkelana. entah dengan bernyanyi, memikirkan materi kuliah hari itu, memikirkan masa depan, mengenang masa lalu. di antara semua itu, bagian terakhir adalah yang paling paling.. itu hanya perasaan penutup yang membuatku tersenyum, atau berteriak malu, atau memilih berpaling saja.

baiklah, aku ingin bercerita mengenai masa kecilku. hanya segmen kecil dari masa kecil, yang hanya sebagian kecil orang tahu.

satu saat yang disuka oleh seorang dyah prabaningrum di masa kecilnya adalah saat ada arisan atau selamatan di rumah, entah di rumah orang tua atau di rumah simbah yang ada di belakang rumah. bagiku sama saja. sebagai anak kecil yang hanya mengganggu kalau ikut "membantu" di dapur, aku lebih suka bermain saja sebab ada objek baru : sofa.

karena membutuhkan space luas, sofa-sofa di ruang tamu dipindahkan sementara, disisihkan di salah satu sudut rumah. bagi imajinasiku itu adalah "rumah". aku bisa membawa boneka, selimut, untuk mendekorasi sofa agar menjadi "rumah" yang cantik. pun mengajak temanku yang tidak banyak, untuk bermain rumah-rumahan di sofa itu. lebih senang lagi saat sepupuku juga datang berkunjung. kami bisa berpura-pura punya ruang-ruang dan membuat kisah yang mengalir, saling bertamu, dan sebagainya. (maybe this is why I love architecture. ya know? architecture speaks about space)

kebahagiaan hakiki seorang anak kecil saat itu bertambah saat kue-kue mulai matang dan siap dihidangkan. kami pergi ke dapur dan melongok ke seluruh penjuru, mengira-ngira jajanan mana yang boleh dicicipi oleh kami. yaa, biasanya sih kue-kue yang tampilannya kurang menarik, atau sedikit gosong, tapi bagi kami makan dan berbagi adalah hal yang asik tanpa peduli penampilan makanan,
(if maybe you ask me where my brother was? yeah he was probably out with his friends or neighbour)

mengerti kan? kebahagiaanku sesederhana mengimajinasikan objek baru dan mendapat kue enak. mengapa sekarang susah bersyukur dengan keadaan yang bisa bebas membeli kue-kue apapun dan mengeksplor banyak hal baru dengan lebih leluasa.

standard orang berubah : makin tinggi jadi makin susah bersyukur. semakin dewasa, semakin arogan pula nampaknya ya. padahal Allah sudah mengingatkan
"Bermegah-megahan (berlebih-lebihan) telah melalaikan kamu." Q.S. At-Takatsur:1
semoga kita selalu ingat untuk bersyukur. ya, bersyukur untuk menjadi bahagia.
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambah (nikmat) kepadamu. Tapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." Q. S. Ibrahim:7

salam masa kecil
~dy

Comments

Popular posts from this blog

rindu #2

could it be?

kejar