bagaimana?
jahat kau bilang,"bagaimana?"
ketika kusodorkan kembali buku yang sudah kau putuskan untuk kau tutup dua tahun yang lalu itu
kupungut kembali kemarin sore dari suatu bilik
"bagaimana?" tanyaku
kutawarkan kembali untuk kau menulis kembali di sana.
kali ini tidak kuizinkan kamu sendiri
aku,
di sini,
menemanimu
hati tidak bisa memilih kepada siapa dia dijatuhkan. dia tidak peduli dengan logika yang selalu menuntut dinomorsatukan. tidak peduli dengan yang seharusnya ini dan itu. benar, ketika hati menjatuhkan pilihan seolah semesta harus mengalah untuk sementara. seperti halnya aku, yang menjadi tak berkutik ketika tiba-tiba hatiku jatuh kepadamu.
![]() |
| halaman belakang |
aku harus berterima kasih padamu. sedikit banyak apapun yang kuperjuangkan ini tidak lepas dari keterkaitan denganmu. satu per satu mimpiku seringkali berarah sama dengan mimpimu. pencapaian demi pencapaian yang kubuat sampai detik ini pun, tidak jauh dari hasil kekagumanku terhadapmu.
aku tidak begitu mengerti cinta. sampai kapan aku harus menjaganya. sampai kapan aku harus menanggung perasaan seperti ini. kamu tidak tahu kan? mana kamu tahu, sebab kamu memang begitu jauh dan mungkin tak terbesit untuk melirik ke arahku. nyaris aku putus asa dengan apa yang kurasakan. mungkin benar kata orang bahwa perasaan ini semu. mungkin aku perlu banyak-banyak tahu diri tentang perkara jatuh cinta ini.
jadi kuputuskan untuk kututup buku ini, menutup segala curahan perasaan tak terutarakan bertahun-tahun ini, lalu bergerak ke arah yang pasti, menentukan langkah selanjutnya dalam hidup.
tapi
tunggu
itukah kau?
yang datang perlahan menyapa dengan halus
kamu yang sampai beberapa waktu lalu kuratapi kini menawarkan satu titik bertemu.
"bagaimana?" tanyamu lagi.
dan aku masih terdiam.
tidakkah kau mengerti?
Kineruku, 9 Agustus 2018
kali ini,
ini bukan kisahku.
hanya salah satu kisah yang kudengar di halaman belakang yang kusuka.
bagiku kisah ini hebat, sampai kurasa perlu mencatatnya di sini.
bahwa jatuh cinta itu, bisa sehebat itu.
dia tidak perlu didewakan.
tak perlu juga ditakuti.
hanya perlu dijaga.
sampai nanti
saatnya
tiba

Comments
Post a Comment