vitamin #1
terbesit untuk menulis tentang dunia medis sesekali hehe
kebetulan beberapa hari yang lalu aku terkena common cold sepertinya. mungkin terpapar si keponakan kesayangan pada jarak yang dekat dalam waktu yang lama, sehingga si virus dengan senang hati berpindah inang. ("baguslah, nak")
aku bukan orang yang suka memasukkan benda asing - katakanlah obat - ke dalam saluran pencernaanku, termasuk saat aku sakit. ya, aku belajar, aku mengerti, dan mencoba mengerti apa yang terjadi pada tubuhku jika aku merasa tidak nyaman. jadi kalau cuma common cold biasanya kubiarkan saja. you know it's a self-limiting-disease. kuharap tidak perlu khawatir berlebihan. kupikir saat tubuh memberi sinyal seperti itu artinya dia meminta lebih perhatian kita. artinya kita sangat butuh untuk mempertimbangkan tidur panjang, menjaga jenis jumlah dan jadwal makan, minum banyak-banyak air, dan jaga kebersihan.
jadi kita harus mafhum bahwa yang kita lakukan selama ini merupakan kedzaliman yang kronis pada tubuh sendiri. kita harus banyak-banyak bersyukur bahwa tubuh kita didesain oleh-Nya begitu kuat. akan tetapi selalu ada kalanya semua itu memiliki batas. ada kalanya pertahanan tubuh ini kalah, entah oleh virus yang terlalu kuat, atau kita yang sudah kelewatan dzalimnya telah turut berandil melemahkan pertahanan itu. apapun itu, akui saja kalau kita memang harus lebih banyak beri perhatian pada diri sendiri, despite ada perhatian dari orang lain atau tidak. LoL
oke, jadi kemarin ada yang menyarankan aku minum vitamin C saja. aku abaikan nasihat ini sejujurnya (maaf!). tapi pada akhirnya terbeli juga vitamin itu, sebab kemudian tidak cuma satu orang yang menyarankan minum vitamin C yang sama (jangan-jangan mereka berkonspirasi). baiklah, jadi mungkin ini kali pertama dyah prabaningrum beli vitamin sendiri. bukan apa-apa, aku memang tidak pernah tertarik untuk minum vitamin atau suplemen makanan seperti itu. kupikir makananku selama ini sudah cukup memenuhi kebutuhan vitamin harian, sebab faktanya kita tidak membutuhkan vitamin banyak-banyak, hanya sekian mg saja yang kalau ditimbang mungkin hanya sejumput dari porsi makanan sehari-hari. sehingga aku dengan sombongnya menganggap tidak butuh suplemen makanan tambahan.
lalu setelah berhasil diyakinkan bahwa vitamin itu enak, aku pun meminumnya dua hari berturut-turut. impresinya adalah: (1) enak, ada rasa-rasa aneh seperti soda. mungkin efek dari bubblesnya ya, dan (2) aku baik-baik saja. hehe itu saja. tapi untuk melanjutkan konsumsi vitamin itu sepertinya kemarin something came up sehingga aku abai dengan vitamin itu. kalau ditanya keadaanku sekarang? well I'm fine now. better. udah gitu aja. tapi tidak berhenti di situ dong. sebab ada lagi teman yang lain menyeletuk dengan senyum simpulnya, "padahal vitamin tidak ada efek immunomodulatornya" ups, I was paused. wait, iya juga ya. apa iya? apa tidak ada sama sekali?
oke baiknya kita belajar ya, apa dan bagaimana sih vitamin C khususnya terhadap common cold dan semacamnya begitu.
kebetulan beberapa hari yang lalu aku terkena common cold sepertinya. mungkin terpapar si keponakan kesayangan pada jarak yang dekat dalam waktu yang lama, sehingga si virus dengan senang hati berpindah inang. ("baguslah, nak")
aku bukan orang yang suka memasukkan benda asing - katakanlah obat - ke dalam saluran pencernaanku, termasuk saat aku sakit. ya, aku belajar, aku mengerti, dan mencoba mengerti apa yang terjadi pada tubuhku jika aku merasa tidak nyaman. jadi kalau cuma common cold biasanya kubiarkan saja. you know it's a self-limiting-disease. kuharap tidak perlu khawatir berlebihan. kupikir saat tubuh memberi sinyal seperti itu artinya dia meminta lebih perhatian kita. artinya kita sangat butuh untuk mempertimbangkan tidur panjang, menjaga jenis jumlah dan jadwal makan, minum banyak-banyak air, dan jaga kebersihan.
jadi kita harus mafhum bahwa yang kita lakukan selama ini merupakan kedzaliman yang kronis pada tubuh sendiri. kita harus banyak-banyak bersyukur bahwa tubuh kita didesain oleh-Nya begitu kuat. akan tetapi selalu ada kalanya semua itu memiliki batas. ada kalanya pertahanan tubuh ini kalah, entah oleh virus yang terlalu kuat, atau kita yang sudah kelewatan dzalimnya telah turut berandil melemahkan pertahanan itu. apapun itu, akui saja kalau kita memang harus lebih banyak beri perhatian pada diri sendiri, despite ada perhatian dari orang lain atau tidak. LoL
oke, jadi kemarin ada yang menyarankan aku minum vitamin C saja. aku abaikan nasihat ini sejujurnya (maaf!). tapi pada akhirnya terbeli juga vitamin itu, sebab kemudian tidak cuma satu orang yang menyarankan minum vitamin C yang sama (jangan-jangan mereka berkonspirasi). baiklah, jadi mungkin ini kali pertama dyah prabaningrum beli vitamin sendiri. bukan apa-apa, aku memang tidak pernah tertarik untuk minum vitamin atau suplemen makanan seperti itu. kupikir makananku selama ini sudah cukup memenuhi kebutuhan vitamin harian, sebab faktanya kita tidak membutuhkan vitamin banyak-banyak, hanya sekian mg saja yang kalau ditimbang mungkin hanya sejumput dari porsi makanan sehari-hari. sehingga aku dengan sombongnya menganggap tidak butuh suplemen makanan tambahan.
lalu setelah berhasil diyakinkan bahwa vitamin itu enak, aku pun meminumnya dua hari berturut-turut. impresinya adalah: (1) enak, ada rasa-rasa aneh seperti soda. mungkin efek dari bubblesnya ya, dan (2) aku baik-baik saja. hehe itu saja. tapi untuk melanjutkan konsumsi vitamin itu sepertinya kemarin something came up sehingga aku abai dengan vitamin itu. kalau ditanya keadaanku sekarang? well I'm fine now. better. udah gitu aja. tapi tidak berhenti di situ dong. sebab ada lagi teman yang lain menyeletuk dengan senyum simpulnya, "padahal vitamin tidak ada efek immunomodulatornya" ups, I was paused. wait, iya juga ya. apa iya? apa tidak ada sama sekali?
oke baiknya kita belajar ya, apa dan bagaimana sih vitamin C khususnya terhadap common cold dan semacamnya begitu.
to be continued...
pada waktu yang belum pasti.

Comments
Post a Comment