the wedding

"bagaimana kamu memaknai sebuah pernikahan?" tanyamu di suatu sore malu-malu. hm, bagaimana jika dimulai darimu.
bagiku...

pernikahan itu menyatukan, antara dua hati, antara dua insan, dua keluarga, dua bangsa, mengkompromikan semua urusan, tentang rencana-rencana jangka panjang, harapan-harapan tentang masa depan.

pernikahan itu sakral, momen sekali seumur hidup. wajar jika banyak dari (masa kecil) kita yang menginginkan pesta yang mewah untuk pernikahan. meski seiring mendewasa lalu terpikir untuk menyederhanakan saja semua dan lebih visioner pada kehidupan setelahnya.

pernikahan itu harapan. saat menikah, bolehlah kupikir untuk berharap tentang ini dan itu, banyak sekali. kehidupan setelah menikah memang penuh rencana-rencana, membuka peluang-peluang, apalagi untuk tahu bahwa tidak lagi sendiri menghadapi semuanya. harapan kan?

pernikahan itu check point, memasuki babak baru kehidupan. level up! banyak sekali hal baru yang bisa dipelajari, tantangan-tantangan yang menanti, target-target baru sebagai kolaborasi mimpi. juga, titik selamatnya separuh agama.

pernikahan itu ajaib. dengan mantra serentetan kata yang menciptakan tangis syukur dan senyum haru melebur, mengubah yang haram menjadi halal, dari dosa menjadi pahala. hanya sebait yang lebih puitis dari jutaan puisi rayuan pujangga manapun, dengan kekuatan magisnya, menyatukan aku, kamu, menjadi kita.

pernikahan itu kado terindah, dari Allah. sudah dipersiapkan matang-matang bahkan sejak belum mampu melihat dunia. skenario yang menujukan pada pernikahan, yang sering diragukan atas nama ketidaksabaran manusia, adalah kisah terbaik untuk mengajarkan perihal cinta, langsung dari Sang Maha Cinta.
pernikahan itu...
hey, maafkan aku terlalu terlarut.
masih dalam suasana pernikahan kakak tersayang.
belum benar-benar sanggup percaya aku kini kehilangan
ok, here I am, alone

Sukajadi, 1 November 2018
melepas haru, mengikis rindu
~dy

Comments

Popular posts from this blog

rindu #2

could it be?

kejar