koas: hidup-mati
satu stase terbaik di perkoasan sejauh tiga bulan pertama ini. semacam mengerti kehidupan, kematian, bagaimana "mempermainkannya", dan di titik tidak mampu berbuat apa-apa dengan kematian.
ternyata mengeluarkan fetus dari perut tidak begitu membutuhkan waktu lama, meski sang bayi itu tidak langsung menangis, beberapa dokter sambil membersihkannya dan memberikan rangsang diiringi detak detik demi detik. sebab jika tidak juga menangis perlu penanganan yang lebih lanjut. tapi bayi itu akhirnya menangis juga, dia berhasil mencapai hidup yang sudah diimpikannya dari mimpi pertamanya. tangis yang indah menurutku, mengharukan.
walau sebenarnya miris ketika mengingat sang ibu memiliki keterbelakangan mental, laki-laki macam apa yang menghamilinya, bagaimana anak itu menerima keadaan ibunya, bagaimana hubungan ibu-anak itu kelak. entahlah. wallahua'lam
malam itu, untuk pertama kalinya memberikan kompresi dada pada bayi henti jantung. harapan demi harapan untuk memintanya bertahan, memohon pada Tuhan untuk mengembalikan denyut nadinya, menghangatkan lagi tangan kakinya. ibunya memelukku erat, erat sekali seolah itu pertama kalinya aku dipeluk seperti itu. seolah dia ingin menyalurkan semua kecemasan, penyesalan, ketakutannya, padaku.
ah kau tak akan mengerti, bagaimana perasaannya. aku pun tidak. berkali-kali dia meraungkan permohonan maaf pada anaknya. mungkin sulit baginya memaafkan diri sendiri. mungkin butuh baginya waktu lama untuk menyembuhkan sakit hati pada diri sendiri seperti itu.
sampai lama bayi itu tidak juga kembali. dan kami tiba pada saat-saat harus mengabarkan waktu kematian pada orang tuanya. bahwa kelak sang bayi itu yang akan menyambut mereka di surga.
layaknya kematian sebagai bagian dari takdir yang tidak bisa ditolak atau sekadar ditunda. kurasa aku tak sanggup melihat kematian lagi setelah malam-malam itu menyaksikan momen kematian, lama-lama aku muak melihat kematian. aku bosan dengan usaha berulang yang berujung kabar kematian lalu tangis sesal dan duka bahkan meraung-raung, hingga pertengkaran antar saudara.
overall aku menyukai pekerjaan anesthesiologist, menarik dan menantang. ditambah lagi beep beep dari monitor pasien seakan jadi musik pengiring sehari-hari.
aku melihat bayi biru yang perlahan berubah jadi merah itu, dia pun berjuang, dia ingin hidup, memperjuangkan kehidupannya. andai manusia-manusia dewasa ini tahu perjuangan itu, sedang mereka seringkali bermain-main dengan hidupnya.ini adalah stase pertama yang aku dapat giliran jaga. suatu hari aku dapat giliran jaga di ruang operasi. operasi yang kuikuti adalah operasi darurat cesar pada pasien eklamsia. kebetulan dia juga memiliki keterbelakangan mental, jadi setengah sulit juga menenangkannya sebelum diinduksi bius.
ternyata mengeluarkan fetus dari perut tidak begitu membutuhkan waktu lama, meski sang bayi itu tidak langsung menangis, beberapa dokter sambil membersihkannya dan memberikan rangsang diiringi detak detik demi detik. sebab jika tidak juga menangis perlu penanganan yang lebih lanjut. tapi bayi itu akhirnya menangis juga, dia berhasil mencapai hidup yang sudah diimpikannya dari mimpi pertamanya. tangis yang indah menurutku, mengharukan.
walau sebenarnya miris ketika mengingat sang ibu memiliki keterbelakangan mental, laki-laki macam apa yang menghamilinya, bagaimana anak itu menerima keadaan ibunya, bagaimana hubungan ibu-anak itu kelak. entahlah. wallahua'lam
sepertinya aku tidak benar-benar memahami perasaan ibu yang kehilangan bayinya. aku hanya tahu perasaan penolong yang tidak berdaya.5 Maret 2019,
malam itu, untuk pertama kalinya memberikan kompresi dada pada bayi henti jantung. harapan demi harapan untuk memintanya bertahan, memohon pada Tuhan untuk mengembalikan denyut nadinya, menghangatkan lagi tangan kakinya. ibunya memelukku erat, erat sekali seolah itu pertama kalinya aku dipeluk seperti itu. seolah dia ingin menyalurkan semua kecemasan, penyesalan, ketakutannya, padaku.
ah kau tak akan mengerti, bagaimana perasaannya. aku pun tidak. berkali-kali dia meraungkan permohonan maaf pada anaknya. mungkin sulit baginya memaafkan diri sendiri. mungkin butuh baginya waktu lama untuk menyembuhkan sakit hati pada diri sendiri seperti itu.
sampai lama bayi itu tidak juga kembali. dan kami tiba pada saat-saat harus mengabarkan waktu kematian pada orang tuanya. bahwa kelak sang bayi itu yang akan menyambut mereka di surga.
layaknya kematian sebagai bagian dari takdir yang tidak bisa ditolak atau sekadar ditunda. kurasa aku tak sanggup melihat kematian lagi setelah malam-malam itu menyaksikan momen kematian, lama-lama aku muak melihat kematian. aku bosan dengan usaha berulang yang berujung kabar kematian lalu tangis sesal dan duka bahkan meraung-raung, hingga pertengkaran antar saudara.
overall aku menyukai pekerjaan anesthesiologist, menarik dan menantang. ditambah lagi beep beep dari monitor pasien seakan jadi musik pengiring sehari-hari.
~dy
Comments
Post a Comment