tamu
satu tamu sedang saya antarkan kembali menuju pendhopo. ya, satu tamu. tamu ini datang mengetuk dengan sopan sejak dari jalan. kami tak sengaja berpapasan saat saya dalam perjalanan pulang dari salah satu kesibukan saya. baik budi pekertinya, halus, untuk saya yang cenderung bebas sekaligus tertutup.
Sukajadi, 16 Jan 20
kami berbincang dengan asyik. saya tawarkan segala jamuan dan dia senang memberikan tanda mata.
di pringgitan,
banyak hal membuat saya tertarik dengan sang tamu. banyak pembicaraan menarik dia hingga tanpa ragu mengundangnya duduk takzim di pringgitan, memandang jauh ke dalam matanya dan menemukan segala keajaiban.
tamu ini istimewa.
jagon,
beramah tamah dengannya sampai saya putuskan membawanya masuk. saya sangat baik untuk memperingatkannya akan tlundhag, hingga kami tiba di jagon. perasaan saya mulai aneh. cerita sang tamu, bahkan saya pun terbawa, menjadi perihal perubahan fasad. perbincangan saya dengan tamu ini meluas sekaligus menyempit.
saya mulai banyak diam. ada yang menyekat saya. saya tahu lebih baik diam. pikiran saya mulai tidak berfokus pada sang tamu. saya....
"apa yang Anda pikirkan? bagaimana menurut Anda?" saya tersentak. saya tahu pertanyaan tamu ini tidak akan mampu saya jawab.
ketika tamu ini menanyakan tentang senthong, saya lebih tidak dapat berkutik. syukurlah kesadaran saya pulih: "saya pemilik omah ini!"
perasaan takut menyeruak menyalahkan keputusan saya membawa tamu asing ke dalam omah.
saya berikan senyum terbaik yang saya bisa selayaknya pada seorang tamu. menggiringnya dengan alunan dan tarian melenakan. dengan keanggunan khas perempuan Jawa yang saya pelajari dari ibu saya, tamu itu saya antarkan keluar...
di pendhopo ini,
meski sedih saya dalam mengingat kisah-kisah indah saat tamu itu baru tiba, saya pastikan sang tamu tetap senang. saya yakini saya harus punya wibawa sebagai pemilik omah, menjamin kenyamanan dan keamanan setiap tamu yang hadir, meski seringkali hanya sampai pendhopo. saya bertekad tetap mengantarkannya dengan hormat.
"silakan Tuan. terima kasih sudah mampir."
saya buka lebar pintu mempersilakan sang tamu bertolak. "suatu kehormatan bagi saya dapat menerima Tuan sebaik yang saya bisa"
Sukajadi, 16 Jan 20
00.38
~dy

Comments
Post a Comment