harapan

segala hal yang hidup membutuhkan amunisi, kau tahu. mobil membutuhkan bahan bakar, TV membutuhkan listrik, manusia membutuhkan makanan, raganya. untuk jiwanya, mereka membutuhkan:
harapan.

harapan ini itu dalam hidup. menunjukkan eksistensi kita, bahwa kita masih hidup dan masih ingin hidup esok hari untuk mengerjakan segala rencana kita, dengan tidak lupa untuk menyediakan semacam ruang penerimaan untuk segala kemungkinan.

kita boleh berharap tentang pasangan yang sempurna tanpa cela,
mengerti dan menerima kita apa adanya.
tentang hubungan jangka panjang yang penuh cinta.
tapi kita juga boleh menyediakan ruang penerimaan seluas-luasnya
untuk kenyataan jika pasangan kita bukan seperti mau kita.
mungkin lebih sempurna dengan ketidaksempurnaanya,
untuk kemudian kita sempurnakan nantinya.

bahkan saat bertemu seseorang itu,
kita boleh berharap untuk dapat mencintai
dan menerima balasan atas cinta yang sepenuh hati.
tapi kita juga boleh menyediakan ruang untuk jika ada waktunya kita tersakiti, patah hati, bahkan ingin mati.
karena katanya kita hanya bisa disakiti oleh orang yang kita cintai.

kita boleh berharap soal covid ini segera berlalu.
menyusun rencana a b c bahkan hal-hal baru.
tapi seiring jalannya waktu,
tak juga corona ini mudah dihalau.
sampai kita memang harus lagi-lagi memperluas lapang penerimaan, selalu.
menyusun lagi rencana d e f tanpa ragu.
shock? ya tentu.
tapi kita juga boleh mengingat hal-hal positif di antara masa berat ini, yang sering kita lupa untuk cari tahu.
buatku, aku bisa melakukan hal-hal yang di hari normal sulit kulakukan.
memasak, berkebun, beres-beres, dan tentu saja mengasuh keponakan.
sebagai bonus, masih bisa cari uang meski dirumahkan.
sekaligus, menjalin hubungan dengan teman-teman jauh di beda perantauan.

lagu bagaimana dengan Ramadhan...
ini bulan yang penuh kesan.
seharusnya,..
bukan ku tak galau tak akan dapat pengalaman sebagaimana Ramadhan yang lalu-lalu.
tapi Allah ingin kita kembali memaknai Ramadhan sebagai bulan habluminallah.
artinya, tak harus bersama yang lain, itu ada saatnya.
dari puluhan bulan lain, baru tiga bulan ini kita perlebar jarak fisik dengan manusia lain.
yang justru jarak hati kita bisa jadi lebih dekat karena bumbu rindu.
dan lagi tentu kita boleh membuat harapan
untuk kembali dapat berkumpul dengan kawan.
bercerita lepas dan menikmati kebersamaan.
tertawa menangis dan menjalin cerita.
tapi itu ada saatnya.

yang pasti, ada harapan.
jangan lupa sediakan ruang yang lapang untuk penerimaan
untuk segala kemungkinan

memulai mengawal malam
Ciputat
~dy
memilih foto ini...
bukan maksud mengingat-ingatnya. hanya menunjukkan kalau aku juga masih berharap menemui laut lagi. selalu merindukannya. waktu itu sengaja mengambil gambar ini, sekadar laut dan langitnya. mengingat bahwa indah dan bahagia itu tak perlu banyak komponen persyaratan. Allah membuatnya sesederhana itu dan seringkali kita masih sulit menemukannya.

Comments

Popular posts from this blog

rindu #2

could it be?

kejar