ada waktu

ada waktunya, untuk merasa tenang, terlepas dari apakah keadaan benar-benar setenang itu. saat jiwa dan raga sepakat untuk menerima saja segala yang datang, secara lahir maupun batin. ingatan tentang masa lalu banyak-banyak buat bersyukur. momen demi momen yang silih berganti, emosi-emosi yang naik dan turun, bagaimana kalau sebaiknya kita ambil pelajaran? mungkin dengan memaafkan, semua orang, yang lalu, bahkan yang akan hadir, terutama diri sendiri. sebab memaafkan adalah suatu titik balik, untuk kembali merasai diri ini. meraih kembali rasa tenang.

ada waktunya, untuk beristirahat tanpa harus merasa ini dan itu terhadap dia atau mereka. cukup duduk tenang, mungkin sedikit obrolan dengan satu atau dua. tanpa perasaan yang sulit. tanpa harus berpikir tentang definisi hidup dan sebagainya. hanya perlu media, untuk becermin, untuk memuntahkan segala isi pikir, untuk kemudian sekali lagi bersyukur, jadikan pelajaran. terdengar klasik, but why not? pada akhirnya yang semua orang butuhkan adalah istirahat saja. dunia itu melelahkan, dan kita semua mempertaruhkan segala hal jiwa raga di dunia ini. but again, we all need to take some rest. agar masih tetap berperan sebagai manusia, bukan malaikat.

ada waktunya untuk merelakan. mempertahankan yang ingin pergi itu tidak bijak. mungkin sempat ada waktunya menikmati kebersamaan, dulu, namun bukan sekarang. waktu berganti, pun orang-orang dalam hidupmu, juga hidupku, dan tentu saja keadaan, perasaan, meski sedikit-sedikit kuharap masih ada yang tidak berubah. but most of all, relakan saja. 

waktu selalu menjadi objek menarik untuk diperbincangkan bukan? sebab ia diciptakan, sering dihargakan, hanya dimanfaatkan, namun diabaikan. akan menjadi suatu yang berharga setelah banyak  yang berlalu di belakang kita, lalu kita nilai satu-satu, detik demi detik, lalu memutuskan untuk disesali, dikutuk, dilupakan, atau dikenang. apapun itu, let's move on.

hingga pada akhirnya aku bersyukur bahwa kamu masih hidup untuk bisa kucintai. lalu apakah kata orang bahwa mencintai tak harus memiliki itu benar? memang "harus" itu hanya serupa ego manusia saja. sebab yang terjadi, ya terjadi saja, terlepas dari apa maumu. tidak ada yang harus di dunia ini, kita mengupayakan yang menurut kita baik (entah untuk siapa), lalu lihat hasilnya. memang tidak selalu terwujud yang kita harapkan, tapi kuharap tidak menghentikan harapanmu di sini. berharap itu tidak gratis, ngomong-ngomong. kita memberikan sebagian dari hati kita di sana. hingga jika harapan itu dipatahkan, ikut patah juga sebagian dari diri kita. yah, kuharap tidak banyak-banyak. bukan melarangmu untuk berharap, hanya saja bersiap untuk segala kemungkinan adalah keputusan yang paling bijak menurutku. 

hingga pada waktunya, waktulah hakimnya. memulai dan mengakhiri. percayalah akan ada waktunya untuk tiba pada kebalikan dari kita saat ini. semoga tiap kita punya hati yang luas untuk menerima semua itu.

terima kasih, sudah bertahan hidup hingga detik ini.
~dy

Comments

Popular posts from this blog

rindu #2

could it be?

kejar